filsafat islam
Pemikiran-pemikiran filsafat Yunani yang masuk dalam pe-
mikiran Islam, diakui banyak kalangan telah mendorong perkem-
bangan filsafat Islam menjadi makin pesat. Meski demikian, menurut
ditulis Oliver Leaman (l. 1950 M),1
seorang orientalis asal Universitas
Kentucky, USA, adalah suatu kesalahan besar jika menganggap
bahwa filsafat Islam bermula dari proses penerjemahan teks-teks
Yunani tersebut, atau hanya nukilan dari filsafat Aristoteles (384-
322 SM) seperti dituduhkan Ernest Renan (1823-1893 M), atau dari
Neo-Platonisme seperti disampaikan Pierre Duhem (1861-1916 M).2
Ada beberapa hal yang harus diperhatian. Pertama, bahwa be-
lajar atau berguru tidak berarti hanya meniru atau mengikuti semata.
Harus dipahami bahwa suatu ide dapat dibahas oleh banyak orang
dan akan tampil dalam berbagai macam fenomena. Seseorang ber-
hak mengambil sebagian gagasan orang lain tetapi itu semua tidak
menghalanginya untuk menampilkan teori atau filsafatnya sendiri.
Aristoteles (384-322 SM), misalnya, jelas murid Plato (427-348 SM),
tetapi ia mempunyai pandangan sendiri yang tidak dikatakan guru-
nya. Begitu pula Baruch Spinoza (1632-1777 M), walau secara jelas
sebagai pengikut Rene Descartes (1596-1650 M), tetapi ia dianggap
mempunyai pandangan filosofis yang berdiri sendiri.3
Hal seperti itu-
lah yang juga terjadi pada para filsuf Muslim.
Komentar
Posting Komentar